Lingga

Gubal dan Lempeng Makanan Tradisional Zaman Kesultanan Lingga 

Ibu-ibu saat memperagakan kepiawaiannya membuat gubal dan lempeng. (Posmetro.co/mrs)

LINGGA, POSMETRO.CO: Lurah Daik Aryanto yang diminta membuka lomba membuat gubal dan lempeng mengaku kalau acara yang dibuat RT RW cukup semarak, Senin (28/10). Kehadiran bapak, ibu telah berpartisipasi dan dia berterimakasih pada sponsor dan donatur yang telah memberi kepercayaan pada Kelurahan Daik.

“Melalui kegiatan yang di gagas RT RW, kelurahan mengangkat cara membuat gubal dan lempeng secara tradisional dan sudah menjadi kebanggaan masyarakat Daik khususnya kelurahan. Kita angkat makanan khas kita memang sudah ada sejak zaman Kesultanan Lingga dahulu,” ungkap dia.

Dia mengaku, pada 28 Oktober 2018 lalu dia di lantik dan 28 Oktober 2019 genap sudah satu tahun di mengemban tugas, dengan harapan dukungan adab, adat, kekompakan serta kebersamaan teruslah dijaga yang sudah menjadi kearifan lokal masyarakat.

“Sebenarnya planing kami bersama RT RW ingin membuat gubal dan lempeng di buat sepanjang jalan, mengingat membutuhkan waktu dan persiapan yang matang, maka kami adakan di sini saja. Ini sebagai bukti bahwa RT RW membuatnya di skop kelurahan,” sebut dia.

Dia sangat mensuport sekali RT RW mengantar makanan dari sagu yang merupakan makanan kebanggan Kelurahan Daik, mereka berpikir kalau bukan mereka siapa lagi.

“Kegiatan seperti ini dari kita untuk kita, kalau bukan kita siapa lagi. Lihat saja yang ada di sini, acara ini d isi kita-kita yang ada di kelurahan. Kami tidak ingin Kelurahan Daik di kata sepi, ini di buktikan bahwa kami ada,” tutur dia.

Dia terus memotivasi RT RW dan masyarakat agar terus berinovasi, beri ide kreatif. Khsus para pemuda, supaya Kelurahan Daik lebih baik lagi, sebab kalau bukan kita siapa lagi.

“Buat RT RW, jaga kampung kita, kita harus bangkit jangan orang memandang kita sebelah mata. RT RW masih 4 tahun lagi bertugas, mari kita majukan daerah kita,” papar dia

Pengakuannya, tanpa anggaran dari pemerintah daerah kegiatan dapat terlaksana dengan baik. Dia juga berpesan kepada ibu-ibu yang ikut lomba meski tidak juara, tapi partisipasi ibu-ibu sangat dihargai.

“Kitalah yang meramaikan acara ini, siapa lagi kalau bukan kita. Mari kita bekerjasama, tanpa ada dukungan masyarakat kita tidak berarti apa-apa,” imbuhnya.

Syarifah Faridah mewakili dua dewan juri sebagai pemberi nilai menyampaikan kriteria penilaian lempeng dan gubal dari sagu, yang bisa menaikkan dan meningkatkan nilai masakan tradisional di Kelurahan Daik.

“Intinya, bagaimana gubal dan lempeng itu lebih baik dari sekarang ini. Perlu diperhatikan peserta, tata rias meja, rasa dan tekstur. Bagi yang tidak mendapat juara jangan berkecil hati nantinya, tetapi berbesar hatilah kedepan di olah lebih baik lagi,” tutupnya.(mrs)