Lingga

Ini Makna yang Tersirat Dalam Permainan Gasing…

Ketua LAM Kepri Kabupaten Lingga, Dato Sri H. Muhammad Ishak menjajal gasing. (posmetro.co/mrs)

LINGGA, POSMETRO.CO: Lembaga Adat Melayu Kepulauan Riau bersama Panitia Pelestarian Permainan Rakyat Tradisional (P3RT) Lingga dan Komunitas Gasing Lingge laksanakan sosialisasi bertajuk ‘Permaianan Rakyat Tradisional Gasing Lingge’ di Desa Kudung Kecamatan Lingga Timur, Jumat (30/8) sore.

Gasing Lingge merupakan permainan rakyat tradisional dan sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia tahun 2019. Permaian ini populer sejak zaman Kesultanan Lingga.

Kedatangan rombongan komunitas gasing memang dinantikan Kepala Desa dan Ketua LAM Kudung, Ketua LAM Kecamatan Lingga Timur serta jajaran dan masyarakat di halaman Kantor Desa Kudung.

Ketua P3RT Kabupaten Lingga, Aryanto menuturkan, Desa Kudung menjadi sasaran sosialisasi gasing karena desanya itu dinilai proaktif dalam kegiatan LAM, hingga kegiatan tersebut terfokus di Desa Kudung.

“Di sini kami membawa para pakar Gasing Lingge, mulai dari pembuatan hingga sampai dengan permainan. Mereka-mereka ini termasuk komunitas yang setiap hari bermain dengan gasing,” ungkap Aryanto.

Karena sudah menjadi WBTB, wajib dilestarikan hingga ke anak-anak. Zaman sekarang anak-anak cendrung banyak yang terpengaruh dengan hape seperti yang ada di Kota Daik. Namun dengan adanya permainan gasing, sedikit dapat mengimbangi dari permaianan game yang dianggap bisa merusak mental anak.

“Harapan kami di Desa Kudung tidak seperti itu. Kami tidak saja mengenalkan gasing, tapi kami juga menyerahkan 20 buah gasing berkembang, dan pemukul dilengkapi dengan 20 tali alit, dan siap dimainkan,” kata dia.

Amran, Kepala Desa Kudung merasa beruntung, karena wilayah kerjanya menjadi tempat sosialisasi perdana yang dilakukan LAM dan P3RT. Dikatakannya, meski permainan tradisional tersebut sudah dikenal masyarakat, tapi tidak pernah dimainkan.

“Memang permainan tradisonal seperti ini banyak diketahui orang tua kita di sini, tapi hanya cerita saja, barang sudah tidak ada lagi. Kami yakin, permainan ini akan digemari anak-anak dan masyarakat, dengan meninggalkan alat permainan dan menunjukkan cara bermain,” ujar Amran.

Ketua LAM Kepri Kabupaten Lingga, Dato Sri H. Muhammad Ishak mengatakan, melestarikan budaya dan pemainan tradisonal merupakan tugas dan tanggung jawab mereka.

“Tidak saja melestarikan budaya dan pemainan tradisional, tapi masalah kueh mueh pengantin juga menjadi sasaran kami untuk dilestarikan. Jadi banyak khazanah kita perlu diangkat dan diperjuangkan, supaya mendapat pengakuan dari pemerintah,” ujar dia.

Dia memaknai, kalau gasing berputar melambangkan kehidupan manusia yang harus berputar setiap harinya. Dan manusia itu harus berusaha mengisi hidup dengan mengais rezeki.

Kalau dalam permainan ada pemangkahan, itu menyangkut permasalahan hidup, permasalahan hidup itu merupakan ujian yang bertubi-tubi di beri Allah SWT, untuk kita selalu sabar dan arif menjalaninya

“Di permainan itu ada makna yang tersirat dan pesan moral bagi kita sebagai umat manusia yang sifatnya lemah. Ingat permasalahan hidup itu ujian. Jadi makna itulah mengantar Gasing Lingge di tetap menjadi WBTB Indonesia Tahun 2019,” imbuhnya.

Melestarikan permaianan tersebut, LAM juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Lingga, dan mendapat respon positif, untuk memasukkan Permainan Gasing Lingge pada pelajaran ekstrakulikuler sekolah, yang sekarang ini masih dalam penyusunan oleh dinas.

Setelah komunitas gasing melakukan sosialisasi bersama anak-anak, remaja dan orang dewasa, Dato Sri H. Muhammad Ishak dan Ketua P3RT menunjukkan kemahirannya memainkan gasing di hadapan penonton.(mrs)