Batam

Air ATB Tak Kunjung Mengalir, Warga Terpaksa Mandi Air Parit

Warga Perumahan Benih Raya terpaksa mandi air parit karena air yang dikelola PT ATB mampet berhari-hari. (posmetro.co/jho)

BATAM, POSMETRO.CO: Berbagai upaya sudah dilakukan warga untuk memperoleh air. Mulai mencari air di kolam maut dan pengambilan air di hutan, meski dilarang petugas. Ternyata ada juga sebagian warga yang menggunakan air parit di belakang Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Marina.

Air asin itu digunakan warga untuk digunakan mandi, cuci piring dan cuci kain.

“Air ini merupakan air laut yang sedang pasang. Tapi air ini terus mengalir,” ucap Dedi, warga yang mandi di dalam parit.

Menurut kepala rumah tangga yang tinggal di Perumahan Benih Raya, sudah dua hari ini air ATB yang biasanya mengalir ke komplek perumahannya mati. Karena tak ada pilihan lain, warga pun memilih mandi di dalam parit.

“Siap mandi, badan terasa lengket. Hal ini pun membuat kami tidak merasa nyaman, tapi itu semua terpaksa kami lakukan,” ucapnya kepada posmetro.co, Kamis (22/8).

Dedi juga menyadari ketia mandi di parit tersebut dan cukup berbahaya bagi anak-anak. Karena itu, setiap anak-anak mandi, harus diawasi orang tua. Jika tidak, bisa-bisa nyawa anak mereka melayang.

“Kalau airnya sedang pasang, maka akan semakin dalam. Bahkan airnya akan mengalir kencang, sehingga berbahaya bagi anak anak,” tuturnya.

Bagi Dedi kalau ia disuruh memilih mati air atau mati listri, lebih baik padam listrik daripada mati air. Jika listrik padam, maka warga masih bisa mengakalinya dengan cara memasang ganset atau lain sebagainya. Tapi jika air mati, maka akan kewalahan.

“Jangankan nyuci piring, buang air kecil pun sudah harus berpikir dua kali,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, Dedi berharap kepada pihak PT ATB untuk segera memberikan perhatiannya kepada warga. Sebab warga merasa kewajibanya sudah dilaksanakan seperti pembayaran rekening air dengan tepat waktu.

“Jika memang ada pemeliharaan atau perbaikan, maka ATB harus cari solusi. Kalau perbaikannya dilakukan siang, maka malam harus mengalir air. Dan sebaliknya, jika perbaikan berlangsung malam, maka siang harus hidup air,” sarannya.

Dedek, warga Perumahan Benih Raya juga mengeluh soal air ini. Bagi ibu rumah tangga itu, air merupakan kebutuhan yang paling utama, jika air mati, maka akan mengganggu semua aktifitasnya.

“Seperti inilah bang, saya sangat  terganggu. Saya harus nyuci kain di dalam parit, kemudian harus  memperhatikan anak saya yang sedang mandi di parit,” katanya.

Dedek melanjutkan, sebelumnya di Perumahan Benih Raya masih mengalir air, tapi di saat jam tertentu saja. Namun sejak dua hari belakangan, air sama sekali tidak mengalir.

“Biasanya kalau malam hidup air, maka siangnya akan mati air. Dan jika malam mati air, maka siangnya akan nyala, namun sekarang off total,” ucapnya.

Kata Dedek, pelayanan ATB sangat mengecewakan banyak warga. Bahkan di komplek mereka sudah tak ada lagi yang menjual air galon, sebab stok air di dalam depot sudah habis.

“Walapun ada, itu langsung dibeli oleh warga. Sebab air di komplek kami benar-benar krisis,” tuturnya.

Krisis air ini pun sangat mengiris hati para wanita lajang dan wanita janda. Jika biasanya ibu rumah tangga mengharapkan tenaga suaminya, maka para wanita lajang dan wanita janda akan terancam tidak mandi.

“Kalau mereka mau mandi di sini (di parit), mungkin malu dilihatin orang. Jika mereka mau mandi di rumah, mereka tak sanggup untuk mengangkat air. Sebab jarak parit ini ke tempat tinggalnya sangat jauh berkisar dua kilometer,” tutupnya.(jho)