Karimun

Arka Bocah Penderita Jantung Bocor di Karimun Butuh Uluran Tangan

Kotak sumbangan buat Arka di depan podium HUT RI di Coastal Area Karimun. (posmetro.co/ria)

KARIMUN, POSMETRO.CO : Sekilas bocah dalam dekapan Ari Zulhakim dan Berta Amsriyana itu, terlihat biasa saja saat berada di Panggung Sri Kemuning Coastal Area usai Upacara HUT RI ke 74 tahun Sabtu (17/8/2019) pagi.

Namun dibalik itu rasa pilu menusuk siapa saja yang mengetahuinya. Namanya Arka Artino usianya baru menginjak 1 tahun 6 bulan. Bocah mungil ini di diagnosa menderita penyakit jantung bocor dan penyumbatan pembuluh darah.

Kedua orang tuanya Ari dan Berta membawa anaknya itu,untuk berharap belas kasih masyarakat.

Mereka tak sendiri, sejumlah pemuda pun ikut serta menggalang dana pagi itu. Hal inilah yang membuat Arka bersama kedua orang tuanya tetap tumbuh, dan terus berusaha untuk melawan penyakit yang bersarang di tubuh Arka.

Ibunda Arka bercerita, keanehan pada putranya itu terasa saat usianya baru 5 bulan, saat itu perkembangan Arka lambat.

Arka dan kedua orang tuanya. (posmetro.co/ria)

“Saat usia lima bulan baru tahu, perkembangannya lambat, berat badannya gak mau naik, disitu baru tahu ternyata ia didiagnosa bocor jantung dan penyempitan pembuluh darah,” ucap Berta dengan meneteskan air mata.

Kini usia Arka 1 tahun 6 bulan, namun berat badannya baru 6 kilogram, jauh dari anak normal lainnya. Namun Berta dan Arie meski tak mampu berbuat banyak karena kondisi ekonomi, warga yang tinggal di Parit Benut, Kecamatan Meral ini masih berharap anaknya bisa sembuh dan menjadi seperti anak-anak lain seusianya.

“Kami dah membawanya ke Jakarta untuk di Operasi, karena dokter disini sudah mengatakan Arka harus dioperasi, saat itu baru sekali dibawa, namun belum bisa di operasi karena di sana harus menunggu antrian, kami bawa dulu ke RS Harapan Kita di Jakarta,” terang Berta.

Sementara, lanjut Berta, Badan Pelayan dan Jaminan Sosial (BPJS) belum bisa berbuat banyak.

“Kami ada BPJS jenis mandiri, itu juga belum bisa membantu di sana, karena kalau menggunakan jalur BPJS Mandiri harus antri menunggu dua tahun kedepan, baru bisa dapat giliran menjalani operasi di Jakarta,” paparnya.

Hal ini yang membuat ya kandas meraih harapan saat itu. Padahal uangnya Rp20 juta yang dibawa kala itu pun mulai ludes untuk operasional dan biaya pengobatan selama di Jakarta. Hal ini membuat Berta dan Ari kembali ke Karimun dan terus berjuang.

Kini Berta dan Ari hanya berharap uluran tangan masyarakat. Bersama pelajar dan pemuda yang tergerak hatinya mengitari jalan, panas terik mencoba meraih simpati masyarakat.(ria)