Batam

Kerja Dua Kali Penumpang Kapal Pelni Bertiket Online

Ilustrasi penupang Kapal Pelni. (jawapos)

BATAM, POSMETRO.CO : Fasilitas pelabuhan yang jauh dari memadai apalagi nyaman, bukan satu-satunya yang dikeluhkan penumpang yang menggunakan kapal Pelni. Penumpang juga mengeluhkan ribetnya pembelian tiket kapal Pelni. Jika calon penumpang membeli tiket lewat online, penumpang masih harus menukar bukti pembelian tersebut dengan tiket. Penukaran itu pun hanya bisa dilakukan di kantor Pelni Batam di Sekupang.

Sistem pembelian tiket online Pelni itu bukannya memudahkan tapi menambah ribet calon penumpang. Sebab, Penumpang jadi kerja ekstra dan merogoh biaya ekstra, karena harus pergi ke kantor Pelni untuk menukar tiket. Mekanisme penukaran tiket online Pelni ini, tentu berbeda dengan tiket kereta api atau pesawat. Calon penumpang kereta api atau pesawat tinggal menunjukkan bukti pembelian tiket online kepada petugas, dan bisa langsung melenggang masuk ke dalam terminal.

“Saya sudah merasakan antrean yang panjang saat menukar bukti pembelian tiket online di kantor Pelni. Sudah antrean panjang, panas, kursi yang ada terbatas, masih ada juga calo yang menawarkan penawaran bukti pembelian tiket online menjadi online. Pokoknya komplet persoalan yang dihadapi penumpang,” kata Sita, calon penumpang KM Kelud tujuan Tanjungpriuk, Selasa (18/6) lalu.

GM Pelni Batam, Sugianto mengakui fasilitas pelabuhan Batuampar masih jauh dari harapan. Tentang minimnya fasilitas pelabuhan, kata Sugianto Pelni Batam tidak bisa berbuat banyak. Pasalnya, fasilitas pendukung Pelabuhan Batuampar sepenuhnya tanggung jawab BP Batam. “Itu bukan domain Pelni tapi domain BP Batam,” ungkap Sugianto.

Apakah Pelni sudah pernah membahas minimnya fasilitas Pelabuhan Batuampar dengan BP Batam? Sugianto menegaskan bahwa pihaknya sudah pernah membicarakan permasalahan tersebut dengan BP Batam. Termasuk, meminta BP Batam menambah konter check in dan konter over bagasi. Namun, support yang diharapkan Pelni Batam terkait perbaikan fasilitas Pelabuhan Batuampar sangat minim sekali.

Akibatnya, “wajah” pelabuhan Batuampar tidak lebih baik dibanding Pelabuhan Domestik baik Sekupang maupun Telagapunggur. Sementara di pelabuhan di daerah lain, fasilitas konter check in, dermaga, jalan dan gedung disediakan oleh Pelindo, maka di Batam fasilitas disediakan oleh BP Batam.

Berbanding terbalik dengan fasilitas, Pelni sejauh ini sudah menjalankan kewajiban dengan menyetor Rp10 ribu per penumpang. Setoran Rp10 ribu per penumpang itu sudah termasuk (include) dalam harga tiket. Saat ini, harga tiket kelas ekonomi Pelni tujuan Batuampar-Belawan Rp220 ribu. Sementara, harga tiket kelas ekonomi tujuan Batuampar-Tanjungpriuk Rp330 ribu. Berbeda dengan maskapai, Pelni sebagai operator KM Kelud tidak memberlakukan tarif batas atas (TBA) atau Tarif Batas Bawah (TBB) pada tiket yang dijual ke penumpang.

“Pelni memberlakukan tarif yang sudah ditetapkan pemerintah. Tidak ada tarif batas bawah atau tarif batas bawah. Sama saja, kalau ke Belawan Rp220 ribu, kalau ke Tanjungpriuk Rp330 ribu,” katanya.

Rute yang dilayani dibagi dua yakni line A dan line B. Line A meliputi Jakarta-Batam-Tanjungbalai Karimun-Belawan pulang pergi (pp). Sedangkan line B melayani rute Jakarta-Kijang-Batam-Belawan pp. Kapal yang melayani rute line A dan B satu kapal saja yakni KM Kelud dengan jadwal masing-masing seminggu sekali.

Perhitungan kewajiban Pelni ke BP Batam dihitung dari jumlah penumpang yang berangkat dalam satu kali keberangkatan (trip). Untuk perhitungan kewajiban, Sugianto mengaku pihaknya tinggal menyerahkan manifest penumpang kepada BP Batam dan membayar sesuai jumlah penumpang dalam tiap keberangkatan kapal. Dalam sekali keberangkatan (call), Pelni bisa mengangkut 3.500-3.700 penumpang saat peak season.

Jumlah penumpang itu diprediksi masih akan bertambah seiring libur sekolah yang baru berakhir pada pertengahan Juli mendatang. Pada peak season saat Idul Fitri kali ini, Pelni melayani hingga 6 call (keberangkatan) dengan jumlah penumpang berkisar 21.000-22.200 orang. Jika Pelni menyetor Rp10 ribu per penumpang, maka total kewajiban yang sudah disetor ke BP Batam mencapai Rp210.000.000.

Jumlah penumpang yang menggunakan kapal Pelni pun melonjak tajam. Untuk rute Batuampar-Belawan, jumlah penumpang saat musim sepi penumpang (low season) hanya berada di kisaran 500-600 orang per call. Kini, jumlah penumpang per call untuk rute yang sama melonjak ke angka 1.500-200 orang per call. Kenaikannya bisa mencapai 3-4 kali lipat. Penumpang rute Batuampar-Belawan melonjak tajam akibat mahalnya tiket pesawat ke Medan. Penumpang sejauh ini dilayani oleh KM Kelud secara reguler. Namun, saat Lebaran kemarin ada tambahan kapal yaitu KM Dorolonda yang melayani rute Batuampar-Belawan. “Kenaikannya 100 persen,” kata Sugianto.

Untuk pembelian tiket, Sugianto mengatakan calon penumpang sudah bisa membeli secara online baik di Alfamart maupun Indomart. Bukti pembelian tiket online, lantas bisa ditukarkan di kantor Pelni Sekupang. Untuk cabang besar seperti di Tanjungpriuk, Jakarta, tiket bisa dicetak di pelabuhan. Kalau di Batuampar, Sugianto mengaku tiket masih belum bisa dicetak di pelabuhan. Penyebabnya, kondisi sarana dan prasarana Pelabuhan Batuampar yang masih belum memungkinkan.

“Kalau di Pelabuhan Tanjungpriuk, Belawan, Surabaya dan Makassar, fasilitas sudah memadai. Penumpang naik ke kapal pakai garbarata. Kalau di Pelabuhan Batuampar kan belum,” urainya.

Perbedaan fasilitas di Pelabuhan Batuampar dengan empat pelabuhan itu juga terletak pada institusi yang menaungi. Pelabuhan Tanjungpriuk, Belawan, Surabaya dan Makassar dikelola oleh Pelindo, sedangkan Pelabuhan Batuampar dikelola BP Batam. Yang lebih membingungkan terjadi di Pelabuhan Sekupang dimana dermaga milik BP Batam sementara terminalnya milik PT Persero Batam.

Di tengah minimnya fasilitas dan layanan, Pelni mencoba meningkatkan layanan di atas kapal. Salah satunya layanan makanan yang diperoleh penumpang saat berada di kapal. Sebelumnya, penumpang Pelni hanya memperoleh sepiring nasi dan sepotong ikan tongkol. Kini, penumpang mendapat tambahan suplement food dan segelas susu saat sarapan. Di kantor Pelni di kawasan Sekupang pun, calo jarang ditemui. Penyebabnya, petugas bagian tiket Pelni hanya melayani penumpang yang membeli tiket sesuai identitas alias Kartu Tanda Penduduk (KTP).

“Sekarang calo itu hanya menjual jasa antre. Penumpang mau kasih berapa untuk jasa mereka itu juga terserah penumpang. Saya tanya penumpang apakah calon yang jual jasa antre itu mengganggu? Kalau mengganggu, kami bekerjasama dengan polisi. Tapi calon penumpang bilang mereka (calo, red) tidak mengganggu, tapi ada juga yang komplin,” bebernya.

Petugas Pelni sempat mengusir calo yang menawarkan jasa antre tiket dari kantor Pelni. Namun, itu hanya efektif 2-3 hari saja. Setelah tiga hari, calo itu mulai berdatangan lagi satu demi satu. Pelni telah mecoba mengajukan tambahan loket tiket ke kantor pusat. Pelni Batam juga disertai evaluasi terhadap meningkatnya animo masyarakat dalam menggunakan jasa kapal Pelni, yang dilihat dari kenaikan jumlah penumpang. Tujuannya agar calon penumpang cepat terlayani dan meminimalisir calo tersebut. Namun, Pelni Batam masih menunggu jawaban atas usulan menambah loket tiket tersebut.

Saat ini, jumlah loket layanan tiket di kantor Pelni Sekupang hanya dua, Jumlah loket itu dirasa jauh dari kurang melihat kenaikan jumlah penumpang pasca kenaikan harga tiket pesawat. “Kalau untuk penambahan jumlah loket itu tinggal tunggu persetujuan kantor pusat,” ungkapnya.

Minimnya fasilitas yang melingkupi kapal Pelni mulai dari pelabuhan hingga konter tiket ini tentu ironi bagi Pelni dan Batam. Apalagi, Batam digadang-gadang sebagai pintu gerbang Indonesia yang berbatasan langsung dengan Singapura. Sugianto membandingkan fasilitas pelabuhan Pelni dengan pelabuhan daerah lain di kawasan timur Indonesia. Di kawasan Timur Indonesia, bahkan jauh lebih maju dengan menyediakan pelabuhan khusus penumpang meski terminalnya tidak terlalu bagus. Bandingkan dengan pelabuhan Batuampar yang pelabuhan penumpangnya menyatu dengan pelabuhan bongkar muat barang.

“Kalau melihat fasilitas di Pelabuhan Batuampar, tentu saja itu sebuah ironi. Di pelabuhan lain seperti di Balikpapan, bahkan sudah pakai garbarata,” ungkapnya. (hda)