Batam

Rayakan Kelulusan, Ratusan Pelajar Terjaring Razia

Para pelajar yang terjaring razia polisi. (posmetro/ddt)

BATAM, POSMETRO.CO : Ratusan pelajar terjaring razia. Polisi mengamankan mereka saat mengganggu ketertiban dan kenyamanan di jalan raya. Pelajar-pelajar yang sedang kegirangan karena baru saja dinyatakan lulus pada tingkat SMA itu, dikumpulkan. Mereka diberi pengarahan, Senin (13/5) malam.

Seragam sekolah, putih abu-abu yang mereka kenakan sudah dicoret-coret dengan cat semprot. Bahkan beberapa remaja itu juga mewarnai rambut mereka dengan cat semprot.

Mereka berkumpul berkelompok-kelompok. Rokok dijepit diantara jemari. Tak hanya remaja laki-laki, perempuan pun juga ramai. “Dari sore. Rencananya mau sampai sahur ngumpul dengan kawan-kawan,” ujar DS (17), salah seorang pelajar SMAN di Batam yang baru saja dinyatakan lulus itu.

Bosan berkumpul di satu titik, remaja putih abu-abu itu pindah ke tempat lain. Mereka konvoi dengan sepeda motor. Cukup banyak titik kumpul mereka. “Sudah tradisi mungkin bagi anak-anak kita,” keluh Kasat Sabhara Polresta Barelang, Kompol Firdaus.

Polisi yang mengetahui kebiasaan para pelajar ini, sudah wanti-wanti. Anggota kepolisian Polda Kepri, Polresta Barelang serta, polsek-polsek sudah bersiap melakukan pembubaran. “Sampai Selasa (14/5) dini hari, mereka masih berkumpul,” ujarnya.

Remaja yang sedang berkumpul tersebut didatangi polisi. Namun para remaja tersebut banyak yanv kabur saat polisi mendatangi mereka. Beberapa titik yang menjadi tempat berkumpul anak-anak ini adalah, depan Maha Vihara Duta Maitreya Monasteri, Sei Panas; Ocarina, Bengkong dan; beberapa lokasi lainnya.

Konvoi dan berkelompok-kelompoknya para remaja ini membuat kekhawatiran bagi masyarakat. Masyarakat menduga mereka hendak tawuran.

“Seperti di BCL Nongsa. Dikira orang mau tawuran. Mobil patroli Polsek Nongsa mendatangi lokasi, ternyata mereka hanya merayakan kelulusan. Polisi juga langsung melakukan pembubaran,” cerita Firdaus.

Tak mudah membubarkan konvoi pelajar ini. Saat polisi mendatangi, mereka kabur berboncengan dengan sepeda motor. Bahkan mereka berpencar-pencar. “Ibarat balon. Kita tekan titik ini, mereka menggelembung di sana,” ujar Firdaus.

Para remaja yang terjaring razia, diamankan. Namun tak sampai dibawa ke kantor polisi ataupun Polresta Barelang. Polisi melakukan tindakan persuasif. Remaja-remaja ini hanya diberi pembinaan. Sehingga mereka sadar, perbuatan mereka bukan bersifat positif.

“Anak-anak ini melakukan pelanggaran lalu lintas, bukan pidana. Konvoi membahayakan diri mereka masing-masing dan juga orang lain. Harusnya orang tua mereka tidak memberikan mereka sepeda motor,” kata Firdaus.

Konvoi Kelulusan Dikira Tawuran

BATAM, PM: Seratusan pelajar terjaring razia. Polisi mengamankan mereka saat mengganggu ketertiban dan kenyamanan di jalan raya. Pelajar-pelajar yang sedang kegirangan karena baru saja dinyatakan lulus pada tingkat SMA itu, dikumpulkan. Mereka diberi pengarahan, Senin (13/5) malam.

Seragam sekolah, putih abu-abu yang mereka kenakan sudah dicoret-coret dengan cat semprot. Bahkan beberapa remaja itu juga mewarnai rambut mereka dengan cat semprot.

Mereka berkumpul berkelompok-kelompok. Rokok dijepit diantara jemari. Tak hanya remaja laki-laki, perempuan pun juga ramai. “Dari sore. Rencananya mau sampai sahur ngumpul dengan kawan-kawan,” ujar DS (17), salah seorang pelajar SMAN di Batam yang baru saja dinyatakan lulus itu.

Bosan berkumpul di satu titik, remaja putih abu-abu itu pindah ke tempat lain. Mereka konvoi dengan sepeda motor. Cukup banyak titik kumpul mereka. “Sudah tradisi mungkin bagi anak-anak kita,” keluh Kasat Sabhara Polresta Barelang, Kompol Firdaus.

Polisi yang mengetahui kebiasaan para pelajar ini, sudah wanti-wanti. Anggota kepolisian Polda Kepri, Polresta Barelang serta, polsek-polsek sudah bersiap melakukan pembubaran. “Sampai Selasa (14/5) dini hari, mereka masih berkumpul,” ujarnya.

Remaja yang sedang berkumpul tersebut didatangi polisi. Namun para remaja tersebut banyak yanv kabur saat polisi mendatangi mereka. Beberapa titik yang menjadi tempat berkumpul anak-anak ini adalah, depan Maha Vihara Duta Maitreya Monasteri, Sei Panas; Ocarina, Bengkong dan; beberapa lokasi lainnya.

Konvoi dan berkelompok-kelompoknya para remaja ini membuat kekhawatiran bagi masyarakat. Masyarakat menduga mereka hendak tawuran. “Seperti di BCL Nongsa. Dikira orang mau tawuran. Mobil patroli Polsek Nongsa mendatangi lokasi, ternyata mereka hanya merayakan kelulusan. Polisi juga langsung melakukan pembubaran,” cerita Firdaus.

Tak mudah membubarkan konvoi pelajar ini. Saat polisi mendatangi, mereka kabur berboncengan dengan sepeda motor. Bahkan mereka berpencar-pencar. “Ibarat balon. Kita tekan titik ini, mereka menggelembung di sana,” ujar Firdaus.

Para remaja yang terjaring razia, diamankan. Namun tak sampai dibawa ke kantor polisi ataupun Polresta Barelang. Polisi melakukan tindakan persuasif. Remaja-remaja ini hanya diberi pembinaan. Sehingga mereka sadar, perbuatan mereka bukan bersifat positif.

“Anak-anak ini melakukan pelanggaran lalu lintas, bukan pidana. Konvoi membahayakan diri mereka masing-masing dan juga orang lain. Harusnya orang tua mereka tidak memberikan mereka sepeda motor,” kata Firdaus. (ddt)