Batam

147 Karateka Ikuti Ujian Kenaikan Sabuk Karate Funakoshi

 

Para karateka yang mengikuti ujian kenaikan sabuk. (posmetro/ddt)

BATAM, POSMETRO.CO : Dogi putih dipasang. Sabuk karate terikat erat di pinggang. Meski usia mereka masih belasan tahun, tapi kuda-kuda mereka menapak kokoh. Mereka adalah kohai atau murid-murid karate dari perguruan Karate Funakoshi.

Sabtu (6/4) kemarin, para Kohai menggelar ujian kenaikan tingkat atau yang biasa disebut kyu. Para kohai dari dojo Smpit Alam Insan Harapan, SD IT Insan Harapan, Tiva Kid’s, Keva Kid’s dan Sultan Agung.

“Ujian kenaikan sabuk ini diikuti 147 orang,” kata Ketua MSH, Sensei Mustika Wahyuli, Senin (8/4).

Ujian kenaikan sabuk itu juga dihadiri oleh Ketua pengda funakoshi kepri Bapak Candra. Dengan para penguji, Ketua MSH Sensei Mustika Wahyuli, Binpres Senpai Syafrizal, Pelatih Senpai M adit, Kevin alwizar, kalima dan, picky Sumantri.

Tahun ini, para kohai mengikuti ujian semester I untuk bisa naik sabuk satu tingkat. Para kohai bersemangat. Mereka tampak sudah menanti-nantikan ujian ini.

Setiap murid berbaris berdasarkan warna dan tingkatan sabuk mereka. Meski sudah melalui ujian fisik dan ketahanan yang melelahkan, para kohai tampak masih bersemangat. Seakan mereka tidak kehabisan tenaga untuk melalui ujian berikutnya.

“Anak-anak ini luar biasa. Mereka sangat bersemangat dan bersungguh-sungguh,” ujarnya.

Ada tiga materi yang diujikan para dalam ujian kenaikan tingkat ini. Yakni dasar, kata dan, komite. “Hasilnya sangat memuaskan. Para murid karate funakoshi berhasil lulus dengan nilai yang sangat baik,” katanya lagi.

Perguruan karate funakoshi patut diacungi jempol. Perguruan ini sudah banyak menghasilkan atlet-atlet berprestasi. Seperti Kevin Alwizar, pelajar kelas VIII SMPN 42 Batam.

Februari lalu, Remaja 15 tahun ini mengharumkan nama Kepri. Dia berhasil meraih juara II dalam ajang Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Karate Funakhosi Indonesia 2019.

Meski melahirkan atlet-atlet berprestasi, perguruan kecil ini minim perhatian dari Koni Batam atau pemerintah daerah. Tak ada bantuan yang diperoleh meski membawa nama Kota dan Provinsi. “Kita berangkat dengan biaya pribadi,” sebutnya.

Mustika, berharap pemerintah memperhatikan perguruan-perguran kecil yang ada di Batam. Serta memberikan dukungan. “Saya berharap sportifitasnya di junjung tinggi. Dan, Koni lebih peduli,” pintanya (ddt)