Batam

Selamat : Perlu Pemerataan Subsidi Transportasi Laut Untuk Siswa Hinterland

Selamat diantara siswa hinterland di salah satu pompong pengangkut pelajar yang bersekolah di luar pulau.

LAHIR dan besar di kawasan hinterland yakni Pulau Karas, Kecamatan Galang, membuat Selamat tahu betul apa permasalahan masyarakat yang ada di sekitaran hinterland.

“Permasalahan utama adalah ekonomi, banyak warga pulau yang hidup dengan ekonomi lemah, masalah selanjutnya adalah pendidikan dan kesehatan,” ungkap pria yang saat ini menjadi pengusaha bidang perikanan.

Khusus untuk pendidikan, Selamat menilai beberapa pulau memang telah memiliki sekolah dari jenjang SD sampai SMA. Tetapi beberapa pulau lain tidak memiliki sekolah.

”SD mungkin ada di pulau tersebut, tetapi SMP dan SMA nya tidak ada, memang itu hal yang bisa dimaklumi. Mau tidak mau harus sekolah di luar pulau. Yang menjadi masalahnya adalah transportasi penghubung untuk pelajar yang akan sekolah di luar pulau, terutama transportasi laut,” terang Selamat.

Dilemanya menurut Selamat, misalnya orang tua siswa mampu membayar biaya transportasi, namun armasa transportasinya yang tidak ada. Begitu juga sebaliknya, armada transportasi ada, tetapi biaya transportasinya yang mahal.

“Untuk itu harus ada sinergi antara pemerintah dengan pengusaha transportasi laut setempat, sehingga pemerintah bisa memberikan subsidi dana transportasi bagi siswa yang menggunakan jalur laut,” jelasnya.

Diakuinya, selama ini memang ada beberapa pulau yang mendapat subsidi transportasi, tetapi tidak semua. Untuk itu, ia sebagai tokoh pemuda dan masyarakat pulau akan berusaha mencari solusi untuk pemerataan dana subsidi tersebut.

Pada tahun 2018 lalu, Pemerintah Kota Batam mengakui belum maksimal menyediakan transportasi bagi pelajar di hinterland. Wali Kota Batam Muhammad Rudi mengakui kondisi tersebut, ia mengatakan pemenuhan transportasi bagi pelajar hinterland akan disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.

“Kami akan adakan bertahap. Saya ingin sampaikan, ini semua tergantung keuangan,” kata Rudi waktu itu dikutip dari salah satu pemberitaan.

Sejatinya, transportasi kapal bagi pelajar sudah tersedia di tiga kecamatan hinterland. Baik di Kecamatan Bulang, Galang, maupun Belakangpadang sudah ada kapal yang khusus melayani pelajar antar pulau. Namun jumlahnya diakui belum penuhi maksimal kebutuhan.(dye)