Metro Kepri

Lepas dari Penculik, Ini Trik yang Dipakai 3 Bocah Cerdas

Tiga bocah yang berhasil lolos dari penculikan.

BATAM, POSMETRO.CO : Kabar anak hilang mulai menyebar di sosial media. Tiga sekawan yang tinggal di Kavling Bukit Mutiara Indah, Tiban Damai, menghilang sejak sore pada Minggu (28/10) pukul 16.00 WIB. Sontak, warga setempat langsung membagi 5 kelompok, dan menyusuri jalanan mencari anak-anak ini.

Meski mereka sudah kembali ke rumah sekira jam 22.00 WIB malam, namun hingga Senin (29/10), mereka masih trauma akan kejadian yang menimpanya.

Ketiga anak ini tidak sekolah. Mereka diizinkan orangtua agar istirahat dahulu di rumah. Pasalnya, sampai pukul 00.00 WIB kemarin, anak-anak ini masih ditanyai polisi mengenai kejadian yang menimpanya.

As (11), korban yang paling besar, duduk di ruang tamu di rumahnya. Dengan setelan kaos pink Mickey Mouse, Aisyah duduk ditemani teman-temannya yang juga korban. Mereka bercerita, bagaimana pelaku mengajak anak-anak ini naik ke mobil Grand Livina BP 1789 XX (seri belakang belum diketahui).

Saat itu, tiga sekawan ini akan bermain di fasum dekat rumahnya. Belum sampai fasum, datang mobil pelaku berhenti di depan anak-anak ini. Dengan modus tanya alamat, anak-anak ini diminta naik mobil, dan mengantar pelaku.

“Katanya tanya alamat Tiban BTN,” kata Aisyah bercerita.

Di ruangan 3×4 itu, As kembali mengingat kejadian yabg dia alami. Pada saat pelaku tanya alamat, As sudah menjelaskan arah alamat. Namun, pelaku mengaku tak tahu, dan meminta anak-anak ini mengantar.

“Naik mobil kami disuruh antar. Tapi antarnya lama, kami takut dan ingin pulang,” katanya.

Rupanya, anak-anak ini diajak berputar-putar. Berbagai lokasi mereka datangi, dan arah tujuan semakin tidak jelas. Bahkan, di dalam mobil sempat terjadi pelecehan yang dialami As. Sebelum pelecehan, korban juga disuap es krim bermodal Rp 30 ribu.

“Paha saya dipegang dan tangan om itu masuk ke rok,” ungkapnya.

As mulai sadar perilaku om-om yang mengantarnya sudah tidak baik. Dia mulai mencari alasan agar ada kesempatan keluar dari mobil. Mulai dari melihat hantu, sampai mengaku ayahnya bekerja sebagai polisi. Semua akal ia keluarkan, agar pelaku tidak melajukan hal yang tidak-tidak kepada dirinya.

“Saya disuruh antar omnya pipis. Katanya omnya takut hantu, saya bilang ada hantu. Gak jadi pipis. Saya juga bilang ayah saya suku Flores dan kerjanya polisi yang pakai baju biasa,” ingatnya bercerita.

Mendengar pengakuan Aisyah. Pelaku seperti ketakutan. Anak-anak ini mulai diantarkan pelaku pulang. Namun karena rumah korban sudah ramai warga, pelaku takut dan membawa korban berputar-putar lagi.

“Katanya om itu takut dikira penculik. Takut dipukuli warga. Makanya kami disuruh turun di gang Perumahan Green Hill. Terus kami pulang,” ujarnya.

Tiga sekawan ini cerdas. Si Dh(10) dan Sa (8), terus mendesak pelaku dengan menangis. Sementara Aisyah yang paling besar, menggunakan akalnya untuk menakuti pelaku. Karena kecerdikan mereka inilah, akhirnya korban pulang dengan selamat sekitar pukul 22.00 WIB malam.

“Mobilnya ada stiker. Omnya ada kumis tipis, hitam, rambutnya pendek pakai kaos hitam dan celana panjang,” ingat Aisyah.(iik)